SINGARAJA, PELANGIDEWATA – Perayaan hari jadi ke-422 Singaraja tidak hanya diisi dengan hiburan, tetapi juga diwarnai upaya menjaga warisan budaya lokal. Salah satunya melalui lomba ngelawar yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng di kawasan Rumah Jabatan Bupati, Minggu (29/3).
Kegiatan ini menjadi wadah pelestarian kuliner tradisional khas Buleleng yang memiliki nilai budaya tinggi. Sebanyak sembilan kecamatan turut ambil bagian dalam perlombaan, sementara satu peserta dari OPD ikut berpartisipasi sebagai penyemarak tanpa masuk penilaian. Rangkaian perayaan akan berlanjut dengan parade kecamatan pada hari berikutnya.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, menegaskan bahwa lomba tersebut bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan bagian dari strategi mempertahankan tradisi leluhur. Ia menilai ngelawar merupakan identitas kuliner daerah yang harus terus dijaga eksistensinya di tengah arus modernisasi.
Menurutnya, pelestarian budaya akan lebih efektif jika melibatkan partisipasi masyarakat secara luas, sehingga nilai-nilai tradisi dapat diwariskan sekaligus diperkenalkan kepada generasi muda.
Ia juga menekankan bahwa setiap peserta wajib mengikuti pakem khas Buleleng, mulai dari pemilihan bahan, racikan bumbu, hingga teknik pengolahan. Keaslian menjadi unsur penting agar cita rasa tradisional tetap terjaga tanpa mengalami perubahan signifikan.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng, Gede Suyasa, yang juga terlibat sebagai juri menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan secara komprehensif oleh tim yang terdiri dari unsur praktisi dan pemerintah.
Penilaian difokuskan pada tiga aspek utama, yakni tahap persiapan dan kebersihan dengan bobot 20 persen, proses pengolahan sebesar 40 persen, serta penyajian dan cita rasa yang juga memiliki bobot 40 persen. Selain itu, karakter khas lawar Buleleng turut menjadi perhatian, seperti potongan bahan yang lebih besar serta rasa bumbu yang kuat dan cenderung pedas.
Salah satu peserta dari Kecamatan Sukasada, Putu Sudika, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar terletak pada pengolahan bahan tertentu seperti lawar berbahan belimbing. Menurutnya, diperlukan teknik khusus untuk menyeimbangkan rasa agar tidak terlalu pahit, salah satunya dengan memanfaatkan air kelapa.
Ia menambahkan, keikutsertaan dalam lomba ini bukan hanya untuk meraih juara, tetapi juga sebagai bentuk partisipasi dalam memeriahkan hari jadi kota.
Dalam kompetisi tersebut, Kecamatan Sukasada berhasil meraih juara pertama, disusul Kecamatan Kubutambahan di posisi kedua, dan Kecamatan Gerokgak sebagai juara ketiga.
Melalui kegiatan ini, tradisi ngelawar tidak hanya dipertahankan, tetapi juga semakin diperkenalkan sebagai bagian penting dari identitas budaya Buleleng yang patut dijaga keberlanjutannya. (ard)