Penduduk Bali Pelaku Aktif Penjaga Eksistensi Budaya Secara Keseluruhan, Sekaligus Menggerakkan Sektor Ekonomi Sampai Pariwisata
BADUNG,PELANGIDEWATA – Gubernur Bali, Wayan Koster, menghadiri Gala Dinner Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 yang berlangsung di Gedung Auditorium Widya Sabha, Kampus Universitas Udayana, Jimbaran, Badung, Rabu (22/4) malam.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Koster hadir bersama Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Budi Setiyono, Ketua Konsorsium Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan, serta Rektor Unud, I Ketut Sudarsana.
Dalam sambutannya, Koster mengungkapkan bahwa laju pertumbuhan penduduk Bali mengalami penurunan sebesar 0,66 persen per tahun, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 1,04 persen. Kondisi ini berdampak pada menurunnya jumlah anak ketiga (Nyoman) dan anak keempat (Ketut) dalam struktur penamaan tradisional Bali.
“Ini Kependudukan Kearifan Lokal Bali. Pada periode pertama saya menjabat sebagai Gubernur, jumlah anak keempat atau Ketut hanya sekitar 4,4 persen, yakni sekitar 30 ribu jiwa. Jika kondisi ini terus berlanjut, dalam 50 tahun ke depan Ketut bisa punah. Begitu juga dengan Nyoman yang terancam mengalami hal serupa,” jelas Koster, seraya menekankan bahwa keberlangsungan budaya Bali sangat bergantung pada masyarakatnya.
Ia menegaskan, jika fenomena ini tidak segera ditangani, maka dalam 50 hingga 100 tahun mendatang jumlah penduduk Bali berpotensi terus menurun. Hal ini akan berdampak pada keberlanjutan budaya, mengingat masyarakat Bali merupakan pelaku utama dalam menjaga tradisi, seni, dan adat istiadat.
Sebagai langkah konkret, Pemerintah Provinsi Bali mulai menerapkan kebijakan insentif bagi keluarga yang memiliki anak ketiga (Nyoman) dan keempat (Ketut). Insentif tersebut mencakup dukungan sejak masa kehamilan, persalinan, hingga pendidikan anak sampai jenjang perguruan tinggi.
“Insentif ini berlaku mulai dari ibu hamil, melahirkan, pendidikan hingga Sarjana, sekaligus sebagai upaya mencegah punahnya Nyoman dan Ketut di Bali,” ujar Koster, yang mendapatkan apresiasi dari kalangan akademisi.
Ia menambahkan, pelestarian kependudukan berbasis kearifan lokal ini bertujuan untuk menjaga eksistensi Bali secara menyeluruh. Selain sebagai penjaga budaya, masyarakat Bali juga berperan penting dalam menggerakkan perekonomian daerah, termasuk sektor pariwisata yang menjadi daya tarik dunia.
Tercatat, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali pada tahun 2025 mencapai 7,05 juta orang, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 6,3 juta kunjungan.
Di akhir sambutannya, Koster juga memaparkan sejumlah indikator pembangunan di Bali. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 2025 meningkat menjadi 79,37 dari sebelumnya 78,63 pada tahun 2024. Sementara itu, angka harapan hidup juga mengalami peningkatan menjadi 75,46 tahun dari 75,10 tahun pada tahun sebelumnya.
“Dari kependudukan ini, kemudian ekonomi Bali mengalami pertumbuhan. Pada tahun 2025 mencapai 5,82 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Budi Setiyono, menyampaikan bahwa Simposium Nasional Kependudukan melibatkan berbagai perguruan tinggi yang berkolaborasi dengan kementerian terkait.
Ia menjelaskan, forum tersebut membahas beragam isu kependudukan di Indonesia, mulai dari persoalan narkoba, pelecehan seksual, hingga fenomena bunuh diri di kalangan generasi muda. Selain itu, simposium juga menyoroti peluang bonus demografi yang tengah dihadapi Indonesia.
“Kami berharap melalui Simposium Nasional Kependudukan ini dapat lahir inovasi serta rekomendasi strategis bagi pemerintah dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia yang berdaya saing, berkualitas, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung penguatan ekonomi dan fiskal negara,” pungkasnya