KLUNGKUNG – Suasana malam Purnama Kapat di kawasan pesisir Pantai Siut, Kabupaten Gianyar, terasa berbeda. Di tengah minimnya penerangan dan tanpa kemeriahan gamelan, puluhan warga keturunan Madura dari Banjarangkan, Klungkung, khidmat menjalankan tradisi leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi tersebut dikenal dengan nama Ngaro, sebuah ritual sakral yang kembali dilaksanakan warga Pura Kawitan Dadia Arya Dalem Madura, Dusun Selat, Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Sabtu (26/9) malam hingga Minggu (27/9) dini hari.
Sebanyak 30 kepala keluarga (KK) Arya Madura Banjarangkan mengikuti prosesi tersebut. Mereka membawa sejumlah tapakan atau pretima dari Pura Kawitan dengan berjalan kaki menuju kawasan pesisir untuk melaksanakan rangkaian ritual.
Ngaro bukan sekadar ritual keagamaan. Bagi warga Arya Madura Banjarangkan, tradisi ini menjadi bagian dari jejak sejarah panjang hubungan antara leluhur Madura dengan Bali yang terus dijaga hingga generasi sekarang.
Jejak Sejarah Madura-Bali
Kelihan Pura Kawitan Dalem Madura Banjarangkan, I Wayan Juliawan, menjelaskan tradisi Ngaro berkaitan dengan kisah leluhur mereka, Adipati Arya Kuda Pinolih, yang pada masa lampau melaksanakan ritual sebagai bentuk penebusan dosa leluhur.
Dalam sejarah yang diwariskan secara turun-temurun, pelaksanaan upacara tersebut turut dihadiri sejumlah raja yang berada dalam pengaruh Kerajaan Majapahit. Salah satunya adalah Raja Bali saat itu, Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan.
Hubungan tersebut kemudian berlanjut ketika Raja Bali dan Arya Kuda Pinolih melakukan perjalanan menuju Bali. Dalam perjalanan melalui perairan Bali Selatan, keris milik Raja Bali disebut terjatuh ke laut.
Arya Kuda Pinolih kemudian terjun ke laut untuk mencari keris tersebut. Dalam kisah yang diwariskan, seekor ikan barakuda atau ikan kucul membantu menunjukkan lokasi keris hingga akhirnya berhasil ditemukan di sekitar perairan Pantai Karang Intaran, Sanur.
Peristiwa tersebut kemudian dipercaya menjadi salah satu tonggak sejarah yang melatarbelakangi pelaksanaan tradisi Ngaro hingga kini.
“Selain warga keturunan Madura di Intaran Sanur, warga Madura di Banjarangkan juga tetap melaksanakan tradisi ini secara konsisten,” kata Juliawan.
Berlangsung hingga Tengah Malam
Pelaksanaan Ngaro dimulai sejak sore hari. Warga terlebih dahulu mempersiapkan berbagai banten dan sarana persembahan mulai sekitar pukul 18.00 Wita.
Karena kondisi abrasi di Pantai Tegal Besar, lokasi pelaksanaan puncak persembahan kemudian dipindahkan ke Pantai Siut. Seluruh tapakan atau pretima diarak menuju lokasi untuk menjalani prosesi utama.
Tepat tengah malam, sekitar pukul 00.00 Wita, persembahan dan banten dihaturkan dengan dipuput Jero Mangku setempat.
Menariknya, pelaksanaan tradisi tersebut berlangsung dalam suasana yang sederhana. Warga tidak banyak menggunakan gamelan maupun lampu sebagai penerangan. Nuansa hening justru menjadi bagian dari kekhidmatan ritual yang telah diwariskan para leluhur.
“Dalam pelaksanaan upacara, kami minim menggunakan gamelan maupun sinar lampu sebagai penerang. Setelah upacara selesai, persembahan berupa tumpeng dan banten lainnya akan dibagikan kepada warga Arya Madura maupun pemedek umum yang hadir,” jelas Juliawan.
Bagi masyarakat Arya Madura Banjarangkan, Ngaro memiliki makna spiritual yang erat dengan penghormatan terhadap leluhur. Tradisi ini menjadi sarana memohon keselamatan dan kerahayuan bagi keluarga, sekaligus doa untuk kesejahteraan masyarakat dan alam semesta.
Di sisi lain, pelaksanaan Ngaro juga menjadi pengingat bahwa keberadaan warga keturunan Madura di Bali memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Melalui ritual yang terus dijaga tersebut, nilai penghormatan kepada leluhur sekaligus hubungan historis Madura dan Bali tetap hidup di tengah perkembangan zaman.