Rapat Pleno Pesta Kesenian Bali XLVIII Tahun 2026 yang digelar Selasa (12/5) di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Wayan Koster menegaskan bahwa PKB harus dikelola secara profesional dan berkualitas tinggi
DENPASAR, PELANGIDEWATA – Pesta Kesenian Bali XLVIII 2026 kembali hadir sebagai perhelatan seni budaya terbesar di Bali. Ajang tahunan yang menjadi wadah pelestarian tradisi, seni, dan kreativitas masyarakat Bali ini akan berlangsung selama hampir satu bulan, mulai 13 Juni hingga 11 Juli 2026.
Dalam Rapat Pleno Pesta Kesenian Bali XLVIII Tahun 2026 yang digelar Selasa (12/5) di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Wayan Koster menegaskan bahwa PKB harus dikelola secara profesional dan berkualitas tinggi. Menurutnya, PKB bukan hanya kebanggaan masyarakat Bali, tetapi juga telah menjadi perhatian dunia internasional sebagai sarana pelestarian seni, budaya, dan identitas Bali.
Pada kesempatan tersebut, Koster yang didampingi Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menjelaskan bahwa sebelum dirinya menjabat sebagai gubernur, pelaksanaan PKB dinilai belum optimal. Tema yang diangkat sering kali tidak selaras dengan pertunjukan yang ditampilkan, tata pelaksanaan dinilai kurang tertata dan belum terintegrasi, serta pelaku UMKM masih dikenakan biaya untuk menyewa stan pameran.
Setelah menjabat, Koster melakukan penataan menyeluruh terhadap pelaksanaan PKB agar lebih terkonsep, tertib, dan terintegrasi sehingga mampu menampilkan kualitas seni budaya Bali secara lebih baik.
“Dulu antara tema dengan yang ditampilkan sering tidak sesuai. Tata pelaksanaannya juga kurang rapi dan belum terintegrasi. Bahkan pameran UMKM berbayar, para perajin harus membayar stand untuk bisa tampil. Namun sejak saya menjadi Gubernur, stand pameran di Pesta Kesenian Bali digratiskan,” ujar Koster.
Gubernur asal Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng ini menekankan bahwa tata kelola PKB harus mendapat perhatian serius agar penyelenggaraan berlangsung tertib, aman, nyaman, dan berkualitas.
Ia menyoroti pentingnya menjaga kebersihan selama festival berlangsung. Pengunjung diimbau untuk tidak membuang sampah sembarangan, sementara pedagang diminta tidak menggunakan plastik sekali pakai sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan ramah lingkungan di Bali.
Selain itu, Koster juga menegaskan pentingnya pengamanan selama acara berlangsung. Menurutnya, sistem keamanan harus dirancang dengan baik agar masyarakat merasa nyaman saat menikmati berbagai kegiatan. Pemasangan CCTV di sejumlah titik dinilai perlu untuk meningkatkan pengawasan.
Aspek keamanan pangan juga menjadi perhatian. Seluruh makanan dan minuman yang dijual selama PKB wajib dipastikan aman dan tidak membahayakan kesehatan pengunjung.
“Tak hanya itu, pendataan jumlah penonton yang hadir setiap hari juga perlu dilakukan secara tertib agar panitia dapat mengetahui tingkat kunjungan masyarakat selama pelaksanaan PKB berlangsung,” jelasnya.
Dalam hal parkir, Koster meminta adanya koordinasi yang baik dengan desa adat di sekitar lokasi guna mendukung kelancaran lalu lintas dan kenyamanan para pengunjung.
Menurut Koster, rangkaian kegiatan PKB tahun ini sangat padat dan telah mencerminkan implementasi Peraturan Daerah tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali. Ia berharap seluruh kegiatan dapat berjalan lancar dan sukses, sekaligus menegaskan bahwa berbagai kekurangan pada pelaksanaan tahun sebelumnya harus menjadi bahan evaluasi.
“Setiap tahun harus ada kemajuan yang lebih baik agar kualitas PKB terus meningkat dan tujuan pelaksanaannya bisa tercapai dengan baik,” ujarnya.
Koster menambahkan, konsistensi penyelenggaraan PKB setiap tahun merupakan kebanggaan bagi Bali. Menurutnya, Bali adalah satu-satunya daerah yang secara rutin menggelar pesta kesenian daerah sebagai bagian dari upaya menjaga seni, adat, dan budaya.
“Saya berharap Presiden Prabowo Subianto bisa hadir menbuka pawai Pesta Kesenian Bali,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, menyampaikan bahwa PKB XLVIII Tahun 2026 mengusung tema “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha” yang berarti Memuliakan Jiwa Paripurna. Tema ini menitikberatkan pada proses penyucian jiwa, refleksi diri, dan pemuliaan manusia melalui seni yang berkaitan dengan nilai kesucian.
“Tema ini dimaknai sebagai upaya pemuliaan jiwa manusia menuju keadaan yang paripurna, jernih, dan suci. Dalam perspektif kosmologi Bali, Atma Kertih dimaknai sebagai proses penyucian dan peneguhan kualitas batin manusia agar selaras dengan nilai-nilai kebenaran, kebijaksanaan, dan harmoni semesta,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, tema tersebut menegaskan fungsi seni dan budaya sebagai media spiritual sekaligus ekspresi estetika yang membimbing manusia menuju kesadaran diri yang luhur (sidha parisudha), yakni jiwa yang telah mencapai kemurnian melalui olah rasa, cipta, dan karsa.
“Dengan demikian, karya-karya seni yang dihadirkan tidak hanya menjadi perayaan kreativitas, tetapi juga menjadi ruang refleksi kultural yang meneguhkan martabat manusia Bali dalam menjaga keseimbangan antara dimensi sakral, sosial, dan ekologis kehidupan, selaras dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru,” terangnya.
PKB XLVIII Tahun 2026 akan menampilkan berbagai program utama, antara lain Peed Aya (Pawai), Kandarupa (Pameran), Rekasadana (Pergelaran), Utsawa (Parade), Kriyaloka (Lokakarya), Wimbakara (Lomba), Widyatula (Sarasehan), Adi Sewaka Nugraha (Penghargaan Pengabdi Seni), Jantra Tradisi Bali (Pekan Kebudayaan Daerah), serta Bali World Culture Celebration.
“Sebanyak 20.929 seniman dari 673 sekaa akan terlibat dalam pelaksanaan PKB XLVIII Tahun 2026,” imbuhnya.