Gubernur Bali Ajak Anak-Anak Tekun Belajar, Hormati Orang Tua dan Guru, serta Yakin Pendidikan Mampu Memutus Rantai Kemiskinan
KARANGASEM,PELANGIDEWATA – Gubernur Bali Wayan Koster mengajak para calon siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Bali untuk menjadikan pendidikan sebagai jalan mengubah masa depan. Pesan itu disampaikannya saat meninjau proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026/2027 sekaligus melihat perkembangan pembangunan Sekolah Rakyat di Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Senin (13/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Koster memberikan motivasi kepada siswa jenjang SD, SMP, dan SMA yang telah diterima di Sekolah Rakyat. Menurutnya, keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk menyerah mengejar cita-cita. Ia meminta para siswa memanfaatkan kesempatan belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga semangat, menghormati guru, menyayangi orang tua, serta tidak meninggalkan doa dalam setiap langkah kehidupan.
Pembangunan Sekolah Rakyat di Karangasem sendiri merupakan bagian dari program strategis Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Fasilitas pendidikan itu berdiri di atas lahan milik Pemerintah Provinsi Bali seluas 5,6 hektare dan diproyeksikan menjadi pusat pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Di hadapan para siswa dan orang tua, Koster membagikan kisah perjuangannya semasa kecil. Ia mengaku lahir dan tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng.
“Adik-adik jangan pernah merasa rendah diri karena keadaan. Saya lahir dari keluarga yang sangat miskin. Rumah kami berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah. Saat kecil saya membantu orang tua bekerja di kebun, menggembala sapi, menjual daun pisang, sampai menjadi buruh angkut batu bata. Tetapi saya percaya, pendidikan adalah jalan untuk mengubah kehidupan. Karena itu belajar dengan tekun, hormati orang tua, hormati guru, rajin berdoa, dan jangan pernah menyerah mengejar cita-cita,” ujar Koster.
Ia kemudian menceritakan perjalanan pendidikannya yang penuh tantangan. Saat bersekolah di SMP Bhaktiyasa Singaraja, dirinya harus tinggal menumpang di rumah orang lain sehingga setiap hari membantu pekerjaan rumah, mulai dari menyapu, mengepel hingga mencuci mobil. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk belajar hingga berhasil menjadi siswa berprestasi.
Prestasi akademik yang diraih mengantarkannya diterima di SMA Negeri Singaraja dan kemudian melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Selama kuliah, Koster memenuhi kebutuhan hidup dengan mengajar les matematika dari rumah ke rumah, sementara sebagian penghasilannya dikirimkan untuk membantu orang tuanya di kampung halaman.
Pengalaman hidup itulah yang menurutnya menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh latar belakang ekonomi, melainkan oleh kerja keras, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar.
Ia pun mengajak seluruh siswa Sekolah Rakyat memanfaatkan kesempatan yang diberikan pemerintah sebaik mungkin agar mampu meraih masa depan yang lebih baik. Menurutnya, peluang untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi terbuka lebar melalui berbagai program yang telah disiapkan Pemerintah Provinsi Bali.
Koster juga menegaskan komitmen Pemprov Bali dalam mendukung pendidikan masyarakat kurang mampu melalui program Satu Keluarga Satu Sarjana yang telah berjalan sejak 2025. Program tersebut bekerja sama dengan 26 perguruan tinggi negeri maupun swasta di Bali, dengan pembiayaan yang tidak hanya mencakup uang kuliah, tetapi juga kebutuhan tempat tinggal bagi mahasiswa penerima manfaat.
“Kalau adik-adik terus belajar dengan sungguh-sungguh, kesempatan untuk kuliah juga terbuka. Pemerintah Provinsi Bali akan terus hadir membantu agar tidak ada anak yang kehilangan masa depan hanya karena keterbatasan ekonomi. Yang terpenting, tetap semangat, terus berprestasi, dan jadilah generasi yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara,” tutup Koster.