SINGARAJA, PELANGIDEWATA, — Upaya pelestarian seni tradisional kembali diperkuat melalui penyelenggaraan Festival Wayang Bali Utara yang berlangsung pada 9–11 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan beragam agenda mulai dari pementasan, diskusi publik hingga lokakarya, dengan tujuan mengangkat kembali eksistensi seni pewayangan sekaligus mengoptimalkan fungsi Museum Sunda Kecil sebagai ruang budaya. Sabtu, (11/4)
Direktur festival, I Putu Ardiyasa, menjelaskan bahwa wilayah Bali Utara, khususnya Buleleng, memiliki kekayaan tradisi wayang yang unik dan berbeda dibanding daerah lain. Keunikan tersebut terlihat dari bentuk pertunjukan, alur cerita, hingga gaya kreatif para dalang yang terus berkembang mengikuti zaman.
Ia juga menyoroti keberadaan Wayang Wong yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO, serta seni lukis wayang kaca khas Nagasepaha yang menjadi bagian penting dari identitas seni lokal.
Menurutnya, masih terbatasnya festival yang secara khusus mengangkat seni wayang di Bali menjadi alasan utama digelarnya kegiatan ini. Museum Sunda Kecil dipilih sebagai lokasi untuk menghubungkan nilai-nilai sejarah dengan perkembangan seni kontemporer melalui medium pewayangan.
Festival ini menghadirkan kolaborasi lintas generasi, mulai dari dalang senior hingga anak-anak. Beberapa di antaranya adalah Jero Dalang Wayan Sudarma, Jero Dalang Mangku Gede Dalang Upik, serta dalang cilik Dewa Komang Satya Aby Mantra. Selain pertunjukan klasik, ditampilkan pula karya-karya inovatif seperti Wayang Tala Jiwa dan Wayang Ental.
Tidak hanya pertunjukan, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai kegiatan edukatif seperti workshop pembuatan wayang, lukisan wayang kaca, hingga pembuatan wayang berbahan rumput (suket). Diskusi publik turut menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan, termasuk drh. Nyoman Dhukajaya, M.Si dan akademisi Dr. I Putu Mardika, M.Si.
Dalam pandangannya, Dr. I Putu Mardika menilai festival ini sebagai langkah strategis dalam menghidupkan kembali fungsi museum sebagai pusat pembelajaran. Ia berharap generasi muda dapat memanfaatkan ruang tersebut untuk memperluas wawasan sekaligus berinteraksi dengan nilai-nilai budaya.
Selain itu, festival ini juga menjadi respons terhadap berkurangnya jumlah dalang aktif di Buleleng. Melalui pertemuan lintas generasi dalam satu panggung, diharapkan muncul regenerasi yang mampu menjaga keberlanjutan tradisi pewayangan.
Ke depan, penyelenggara berharap Festival Wayang Bali Utara dapat menjadi agenda rutin yang tidak hanya menjaga kelestarian seni, tetapi juga memperkuat posisi museum sebagai pusat kegiatan budaya dan edukasi di Bali Utara. (ard)