Sekaa Gong Eka Wakya bersama mahasiswa University of Waterloo tampil satu panggung dalam pertukaran budaya yang mempererat hubungan seni Bali dan komunitas akademik internasional.
SINGARAJA, PELANGIDEWATA – Banjar Paketan, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng, kembali menjadi ruang pertemuan budaya internasional melalui kegiatan kolaborasi seni antara Sekaa Gong Eka Wakya dan mahasiswa U: niversity of Waterloo, Kanada, Rabu malam (20/5).
Kegiatan tersebut menghadirkan pertunjukan bersama sekaligus proses pembelajaran gamelan Bali yang melibatkan mahasiswa asing secara langsung.
Program pertukaran budaya ini merupakan lanjutan dari kerja sama yang telah berlangsung sejak tahun sebelumnya. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa asal Kanada mempelajari tabuh khas Bali Utara yang menjadi ciri khas Banjar Paketan, mulai dari teori hingga praktik pementasan.
Kelian Gong sekaligus Kelian Adat Banjar Paketan, I Ketut Sunada, menyampaikan apresiasinya terhadap keberlanjutan kerja sama budaya tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi peluang besar untuk memperkenalkan Gong Kebyar Eka Wakya ke tingkat internasional.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kolaborasi ini. Selain menjadi sarana pertukaran budaya, kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi Gong Eka Wakya Banjar Paketan untuk semakin dikenal luas, termasuk hingga ke luar negeri,” ujarnya.
Menurut Sunada, sebelum datang ke Bali, para mahasiswa telah mendapatkan pembelajaran daring mengenai tabuh gong tua bersama Wakil Ketua Sekaa Gong, Dek Pas.
Materi yang dipelajari mencakup lelonggoran hingga sekatian yang merupakan bagian dari kekayaan seni tabuh Bali Utara.
Selain mempraktikkan repertoar yang dipelajari, para mahasiswa juga melakukan observasi serta penelitian terhadap karakteristik gamelan gong tua di Banjar Paketan.
Antusiasme mahasiswa disebut sangat tinggi dalam memahami seni tradisional Bali secara lebih mendalam.
“Kami berharap hubungan ini terus berlanjut. Siapa tahu ke depannya kami dapat berkolaborasi lebih jauh, bahkan mendapat kesempatan untuk tampil di Kanada,” tambahnya.
Sementara itu, mahasiswa Jurusan Antropologi Musik University of Waterloo, Maisie Sum, mengungkapkan bahwa pengalaman tampil bersama Sekaa Gong Eka Wakya menjadi momen berharga bagi para mahasiswa.
Ia menjelaskan, dirinya telah mempelajari gamelan sejak tahun 2004 di Vancouver.
Ansambel gamelan di University of Waterloo yang berada di bawah Conrad Grebel University College berdiri sejak 2013 dan mulai bekerja sama dengan seniman Bali, Dewa Suparta, sejak tahun 2015 sebagai artist in residence.
Dalam kunjungan ke Bali kali ini, para mahasiswa terlebih dahulu mengikuti pelatihan intensif di Sanggar Cudamani, Pengosekan, Ubud. Setelah itu, mereka melanjutkan pembelajaran di Banjar Paketan guna memperdalam tabuh khas Bali Utara sekaligus tampil dalam konser kolaborasi.
Pada pertunjukan tersebut, mahasiswa University of Waterloo membawakan empat repertoar, yakni Gilak aransemen Dewa Suparta, tari Pendet, Lelonggoran khas Buleleng, serta Padurasa yang merupakan karya kreasi mahasiswa.
Maisie Sum menyebutkan bahwa proses latihan dilakukan selama satu semester atau sekitar 12 minggu dengan total kurang lebih 30 jam pertemuan untuk mempersiapkan tiga hingga empat repertoar.
“Kami merasa sangat beruntung dapat berkolaborasi dengan Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan. Mereka memberikan dukungan yang luar biasa kepada kami. Kami berharap hubungan ini dapat terus berlanjut dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di masa mendatang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kegiatan pertukaran budaya menjadi ruang penting dalam membangun dialog serta mempererat hubungan masyarakat Bali dengan komunitas akademik internasional melalui seni tradisional.
Ke depan, University of Waterloo berharap hubungan dengan Banjar Paketan dapat terus berkembang, termasuk membuka peluang menghadirkan Sekaa Gong Eka Wakya tampil di Kanada sebagai bagian dari penguatan hubungan budaya antarnegara.
Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa seni tradisional Bali, khususnya gamelan Bali Utara, tetap memiliki daya tarik kuat di tingkat internasional dan mampu menjadi jembatan persahabatan lintas budaya.