GIANYAR – Pelestarian wastra tradisional Bali perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya dengan menjaga keindahan dan nilai budayanya, tetapi juga memperkuat nilai ekonomi serta perlindungan terhadap keberlangsungan warisan leluhur. Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, desainer, perajin, dan pelaku usaha agar ekosistem industri sandang Bali dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Pesan itu disampaikan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, dalam kegiatan Dekranasda Fashion Roadshow to Gianyar bertajuk “Wastra Hita Kara” di Balai Budaya Kabupaten Gianyar, Selasa (20/10/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah Dekranasda Provinsi Bali untuk memperkuat ekosistem industri sandang melalui ruang promosi bagi desainer sekaligus mendorong keterlibatan perajin dan pelaku usaha dalam pengembangan wastra tradisional.
Putri Koster menjelaskan, sejak awal kepemimpinannya, Dekranasda Provinsi Bali berupaya menghadirkan program yang memberikan dampak nyata bagi perkembangan industri sandang. Peragaan busana pun dikembangkan bukan sekadar sebagai ajang menampilkan pakaian, melainkan sebagai sarana mengangkat kreativitas desainer dan menggerakkan seluruh mata rantai industri terkait.
Program yang awalnya dilaksanakan di lingkungan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Bali kemudian berkembang menjadi trilogi peragaan busana Dekranasda yang berorientasi pada penguatan kreativitas dan promosi wastra Bali.
“Ketika kita berbicara tentang fashion show, jangan hanya melihat peragaan busananya. Di dalamnya ada desainer, perajin, pelaku usaha, dan seluruh ekosistem yang harus ikut tumbuh. Karena itu, kita mengangkat desainer agar ekosistem yang berkaitan dengan sandang juga ikut terangkat,” ujar Putri Koster.
Ia mengungkapkan, pelaksanaan Dekranasda Fashion Roadshow ke kabupaten/kota pada tahun mendatang akan diarahkan untuk menampilkan karya desainer lokal dari masing-masing daerah. Karena itu, Kabupaten Gianyar didorong mulai membina dan mempersiapkan desainer daerah agar memiliki kesempatan lebih luas untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mengembangkan potensi wastra setempat.
Pelestarian Wastra dengan Konsep “Satu Jiwa, Tiga Rupa”
Putri Koster menekankan bahwa menjaga keberadaan kain tenun tradisional Bali harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Pelestarian tidak cukup hanya dengan mempertahankan teknik menenun atau menampilkan kain dalam berbagai acara, tetapi perlu disertai upaya memperkuat nilai ekonomi dan perlindungan terhadap warisan budaya tersebut.
Ia memperkenalkan konsep “satu jiwa, tiga rupa” sebagai gambaran tiga dimensi yang perlu berjalan beriringan dalam pelestarian wastra, yakni keindahan, nilai ekonomi, dan perlindungan.
Dimensi pertama adalah keindahan kain sebagai karya seni yang mencerminkan identitas, filosofi, dan nilai budaya masyarakat Bali. Dimensi kedua berkaitan dengan manfaat ekonomi yang dihasilkan bagi penenun, desainer, serta pelaku usaha. Adapun dimensi ketiga menekankan peran pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga serta melindungi keberadaan kain tradisional Bali.
Menurutnya, ketiga aspek tersebut tidak dapat dipisahkan apabila wastra ingin terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.
Sebagai contoh, Putri Koster menyoroti kain Gringsing yang memiliki nilai filosofis dan makna tersendiri dalam kehidupan masyarakat Bali. Nilai kain tersebut tidak hanya terletak pada motif dan keindahannya, tetapi juga pada proses pembuatan serta warisan keyakinan budaya yang menyertainya.
“Kalau kita ingin melestarikan wastra Bali, kita harus memahami nilai yang ada di balik kain itu. Kita tidak hanya berbicara tentang bagaimana kain ditampilkan, tetapi juga bagaimana perajin memperoleh manfaat ekonomi dan bagaimana keberadaan kain tersebut dilindungi. Dengan memakai kain tenun tradisional, kita turut merawat dan melestarikan warisan budaya Bali,” tegasnya.
Ia menambahkan, pelestarian budaya memerlukan kepemimpinan yang memiliki visi kultural. Dengan demikian, pengembangan ekonomi kreatif dapat berjalan seiring dengan perlindungan nilai tradisional dan penyesuaian terhadap perkembangan zaman.
Gianyar Perluas Ruang bagi Desainer dan Perajin Lokal
Sementara itu, Ketua Dekranasda Kabupaten Gianyar, Ny. Surya Adnyani Mahayastra, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Gianyar sebagai salah satu lokasi pelaksanaan Dekranasda Fashion Roadshow “Wastra Hita Kara”.
Ia menyebutkan, Gianyar memiliki kekayaan seni, budaya, dan kerajinan yang diwariskan secara turun-temurun. Potensi tersebut perlu terus dijaga dan dikembangkan agar mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas maupun nilai tradisionalnya.
Menurutnya, kegiatan fashion roadshow menjadi kesempatan untuk memperkenalkan wastra dan produk kerajinan Gianyar kepada masyarakat yang lebih luas. Selain menjadi panggung peragaan busana, kegiatan ini juga membuka ruang bagi desainer untuk menampilkan karya, mempertemukan pelaku industri kreatif, dan memperluas peluang promosi produk unggulan daerah.
“Kami meyakini kolaborasi antara Dekranasda Provinsi Bali, Dekranasda Kabupaten Gianyar, pemerintah daerah, desainer, perajin, dan pelaku usaha merupakan kunci penting dalam meningkatkan daya saing produk lokal agar mampu menembus pasar nasional maupun internasional,” ujar Surya Adnyani Mahayastra.
Ia juga menegaskan bahwa status Gianyar sebagai World Craft City merupakan kebanggaan sekaligus tanggung jawab untuk terus mengembangkan potensi kerajinan daerah. Melalui program berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor, kerajinan lokal diharapkan semakin kuat sebagai identitas budaya sekaligus salah satu penggerak ekonomi kreatif.
Tujuh Desainer Tampilkan Karya di Wastra Hita Kara
Dekranasda Fashion Roadshow to Gianyar “Wastra Hita Kara” turut menghadirkan karya dari tujuh desainer dan label, yakni Turah Mayun, Taksu, Dika Saskara, Guts Etnik, Delux, Kembang Sari, serta Body N Mind.
Beragam karya yang ditampilkan menjadi ruang ekspresi kreativitas dalam mengolah unsur wastra dan identitas lokal ke dalam desain busana. Rangkaian acara ditutup dengan penampilan seluruh model dan sesi foto bersama.
Melalui kegiatan ini, Dekranasda Provinsi Bali berharap wastra tradisional tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing.
Penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir diharapkan mampu memberikan manfaat lebih luas bagi perajin, desainer, dan pelaku usaha, sekaligus memastikan kekayaan wastra Bali tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.