SINGARAJA, PELANGIDEWATA– Putri Proklamator RI, Sukmawati Soekarnoputri, kembali menghadirkan karya tari di Kabupaten Buleleng, Bali. Tahun 2026 menjadi kali ketiga dirinya mementaskan karya seni di wilayah yang memiliki sejarah panjang perjuangan rakyat Bali tersebut.
Pementasan bertajuk Raga Merdeka akan digelar di Taman Bung Karno pada Sabtu, 6 Juni 2026. Karya tari ini lahir dari pengalaman Sukmawati saat melakukan napak tilas sejarah di Buleleng. Berbagai peristiwa perjuangan masyarakat Bali, mulai dari masa pemerintahan Panji Sakti hingga Perang Jagaraga, menjadi inspirasi utama dalam proses penciptaannya.
“Saya merasa semakin dekat dan akrab dengan para seniman dan seniwati di Buleleng melalui pementasan karya tari yang saya persembahkan. Ini sudah yang ketiga kali saya tampil di Buleleng dan mudah-mudahan tahun depan, astungkara, kegiatan ini dapat berlangsung lagi,” kata Sukmawati saat ditemui, Selasa (2/6/2026).

Menurut Sukmawati, Buleleng menyimpan banyak peninggalan sejarah yang penting untuk terus diperkenalkan kepada generasi muda. Salah satu lokasi yang paling membekas baginya adalah Jagaraga, tempat yang menjadi saksi perjuangan rakyat Bali dalam menghadapi kolonialisme Belanda.
“Dari berbagai bukti dan catatan sejarah yang saya pelajari, terlihat bagaimana para pejuang Bali berjuang menghadapi kolonialisme Belanda. Inspirasi itu kemudian saya tuangkan ke dalam karya tari ini,” ujarnya.
Selain mengangkat nilai sejarah dan budaya, pertunjukan tersebut juga menghadirkan unsur olahraga. Sukmawati menilai seni dan olahraga memiliki kesamaan karena sama-sama membutuhkan kemampuan fisik, kedisiplinan, serta ketekunan yang tinggi.
“Saya prihatin karena masih banyak atlet-atlet berprestasi yang belum mendapatkan perhatian dan apresiasi yang layak. Padahal mereka telah mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional,” katanya.
Dalam Raga Merdeka, Sukmawati memadukan tari tradisional dengan sentuhan kontemporer. Sekitar 100 seniman terlibat dalam pementasan ini. Salah satu daya tarik utama adalah penampilan musik genggong yang dimainkan secara langsung oleh seniman asal Desa Selat, Kecamatan Sukasada.
Menurutnya, genggong merupakan salah satu warisan budaya Bali yang memiliki keunikan tersendiri dan patut terus dijaga keberlangsungannya.
“Musik yang dimainkan secara langsung hanya genggong. Instrumen ini sangat khas karena menggunakan bambu dan memiliki karakter suara yang unik,” jelasnya.
Sukmawati juga menyampaikan kekagumannya terhadap sejumlah atlet nasional, termasuk Ade Rai. Pada pementasan kali ini, Ade Rai kembali dilibatkan sebagai bagian dari pertunjukan.
“Dalam karya sebelumnya beliau pernah ikut terlibat, dan kali ini kembali tertarik untuk berpartisipasi,” katanya.
Lebih jauh, Sukmawati menegaskan bahwa olahraga memiliki peran penting dalam membangun karakter bangsa. Ia mencontohkan perhatian besar Presiden pertama RI, Soekarno, terhadap dunia olahraga, termasuk melalui pembangunan Gelora Bung Karno yang menjadi simbol kemajuan Indonesia.
“Bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang pandai menari dan menabuh gamelan, tetapi juga bangsa yang memiliki generasi sehat, disiplin, dan terdidik melalui olahraga,” ujarnya.
Di tengah pesatnya perkembangan media sosial, Sukmawati mengaku prihatin karena atlet-atlet berprestasi sering kali mendapatkan perhatian yang lebih kecil dibandingkan figur lain yang populer di dunia digital.
“Saya sering sedih melihat atlet-atlet yang menjadi juara dunia atau meraih medali emas justru memiliki perhatian yang lebih kecil di media sosial. Padahal kontribusi mereka bagi bangsa sangat besar,” katanya.
Melalui pertunjukan Raga Merdeka, Sukmawati berharap masyarakat, terutama generasi muda, dapat semakin mencintai seni dan budaya Bali sekaligus menumbuhkan penghargaan yang lebih besar terhadap sejarah perjuangan bangsa serta prestasi olahraga Indonesia.