Bersaing dengan 42 pasangan pada nomor Open, wakil Buleleng hanya terpaut 0,95 persen dari podium ketiga Kejurnas Bridge ke-60 di Mamuju.
SINGARAJA, PELANGIDEWATA – Performa atlet bridge Kabupaten Buleleng kembali mencuri perhatian di tingkat nasional. Pasangan Gede Raditya Manohara, S.Kom. dan Drs. I Made Nuridja, M.Pd. berhasil melaju hingga babak final Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Bridge ke-60 Tahun 2026 dan mengamankan posisi empat besar nasional pada nomor Pasangan Open/Terbuka.
Kejurnas yang berlangsung di Kompleks Perkantoran Gubernur Sulawesi Barat, Mamuju, digelar mulai 19 hingga 24 September 2026. Ajang tersebut mempertemukan atlet dari berbagai daerah maupun klub bridge di Indonesia. Khusus nomor pasangan, kategori Open diikuti 42 pasangan, sedangkan kategori KU25 diikuti 22 pasangan.
Perjuangan pasangan Buleleng berlanjut ke babak final dengan menghadapi 15 pasangan lainnya. Pertandingan final menggunakan format Matchpoint Barometer yang membuat setiap perolehan poin menjadi sangat menentukan dalam persaingan papan atas.
Gelar juara akhirnya diraih pasangan Yere dan Yongky Tumbel dari Tomohon dengan skor 60,16 persen. Posisi kedua ditempati Bert Toar Polii dan Paulus Sugandi dari Djarum Bridge Club dengan 57,62 persen, sementara pasangan Jaury Sakkung dan Mulyadi dari Palu berada di peringkat ketiga dengan raihan 53,65 persen.
Raditya dan Nuridja menyelesaikan pertandingan di posisi keempat dengan skor 52,70 persen. Capaian tersebut menunjukkan persaingan yang sangat ketat, karena pasangan Buleleng hanya terpaut 0,95 poin persentase dari penghuni posisi ketiga.
Ketua GABSI Buleleng, Drs. I Made Nuridja, M.Pd., saat dikonfirmasi Rabu (23/9), menyebut hasil tersebut sebagai capaian positif bagi Buleleng. Menurutnya, masuknya pasangan Buleleng ke empat besar nasional menjadi bukti bahwa atlet daerah mampu bersaing dengan pasangan dari berbagai klub dan daerah yang memiliki pengalaman bertanding di tingkat nasional.
“Kami bersyukur bisa masuk empat besar nasional. Persaingan di kategori Open cukup ketat karena diikuti pasangan-pasangan dari berbagai daerah dan klub di Indonesia. Hasil ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kemampuan,” ujar Nuridja.
Meski berhasil berada di papan atas, Nuridja menyebut masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperbaiki. Konsistensi permainan menjadi salah satu evaluasi utama setelah melihat ketatnya perolehan skor di babak final.
“Masih ada beberapa hal yang perlu kami evaluasi, terutama bagaimana menjaga konsistensi permainan. Ini menjadi pengalaman berharga karena kami bisa mengukur kemampuan dengan pasangan-pasangan dari berbagai daerah,” katanya.
Selain nomor Open, Buleleng juga menurunkan pasangan junior KU25, Gede Arya Suryana Murtika Wangsa dan Ni Putu Puja Parwati Dewi. Keduanya memang belum berhasil melangkah ke final nomor Pasangan Junior KU25, namun tetap melanjutkan kiprah melalui side event Pasangan Kongres.
Pada nomor tersebut, pasangan junior Buleleng justru berhasil mencatatkan prestasi dengan meraih Juara 1 Junior atau Best Junior. Capaian ini menjadi tambahan catatan positif bagi pembinaan atlet muda bridge Buleleng.
Nuridja menilai keikutsertaan atlet junior dalam Kejurnas tidak hanya berbicara mengenai hasil pertandingan, tetapi juga menjadi bagian penting untuk menambah pengalaman dan jam terbang. Bertemu serta berkompetisi dengan atlet dari berbagai daerah dinilai dapat menjadi modal bagi perkembangan mereka ke depan.
“Untuk atlet junior, yang terpenting mereka mendapatkan pengalaman bertanding. Mereka bisa merasakan atmosfer Kejurnas dan menghadapi pasangan dari berbagai daerah. Raihan Best Junior tentu menjadi tambahan motivasi bagi mereka,” jelasnya.
Kontingen bridge Buleleng pada Kejurnas kali ini diperkuat empat atlet, yakni Gede Raditya Manohara, S.Kom., Drs. I Made Nuridja, M.Pd., Ni Putu Puja Parwati Dewi, dan Gede Arya Suryana Murtika Wangsa.
Keempatnya turun dalam tiga nomor pertandingan, meliputi Pasangan Junior KU25, Pasangan Open/Terbuka, serta Beregu Kelas B. Setelah menyelesaikan nomor pasangan, perjuangan kontingen Buleleng masih berlanjut pada nomor Beregu Kelas B.
Nomor beregu tersebut menggunakan sistem round robin sebanyak sembilan round yang kemudian dilanjutkan ke babak play-off. Buleleng membawa sasaran untuk dapat meningkatkan kelas menjadi Kelas A pada Kejurnas berikutnya.
Target tersebut menjadi dorongan bagi para atlet untuk menjaga performa dan konsistensi permainan hingga seluruh rangkaian pertandingan selesai.
“Untuk beregu, kami masih punya target yang ingin dicapai. Kami berharap bisa bermain konsisten dan memberikan hasil terbaik. Target ke depan tentu bagaimana Buleleng bisa naik kelas ke Kelas A,” tandas Nuridja. (ard)