DENPASAR – Ketua TP Posyandu Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, mengajak para orang tua menjadi teladan bagi anak-anak dalam membangun karakter yang kuat, mandiri, dan tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan kehidupan. Menurutnya, pembentukan karakter perlu dilakukan sejak dini melalui pewarisan pengetahuan, pengalaman hidup, serta penanaman budi pekerti.
Pesan tersebut disampaikan Putri Koster saat menjadi pembicara kunci dalam Webinar Catur Guru yang digelar Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (15/10/2026). Kegiatan ini didukung TP Posyandu Provinsi Bali dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali.
Dalam paparannya, Putri Koster menyoroti fenomena generasi strawberry, yakni generasi yang dinilai memiliki penampilan menarik dan potensi, tetapi cenderung mudah rapuh ketika menghadapi tekanan atau kesulitan. Ia menilai, peran orang tua sangat penting untuk membekali anak agar mampu menghadapi dinamika kehidupan dengan ketangguhan dan sikap bertanggung jawab.
Menurutnya, orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan anak secara materi, tetapi juga perlu mewariskan pengetahuan dan pengalaman sebagai bekal dalam mengambil keputusan serta menghadapi berbagai persoalan.
Selain pengetahuan, pembentukan budi pekerti menjadi aspek penting yang harus ditanamkan dalam kehidupan keluarga. Nilai-nilai moral yang diterapkan secara konsisten diharapkan dapat membantu anak menentukan sikap dan perilaku ketika berhadapan dengan berbagai tantangan.
“Sangat penting bagi anak-anak kita memiliki budi pakerti yang baik agar selamat dalam menjalani kehidupan,” ujarnya.
Putri Koster juga menekankan pentingnya penerapan nilai-nilai Catur Guru sebagai landasan pendidikan karakter. Ajaran tersebut mengingatkan umat Hindu untuk menghormati dan menghargai empat guru, yakni Guru Swadyaya atau Tuhan Yang Maha Esa, Guru Rupaka atau orang tua, Guru Pengajian atau guru di sekolah, serta Guru Wisesa atau pemerintah.
Ia mengapresiasi inisiatif WHDI Bali yang mengangkat tema “Meningkatkan Kapasitas dan Integritas SDM Hindu Dalam Upaya Mewujudkan Umat Hindu Yang Berkualitas dan Berkarakter”. Menurutnya, tema tersebut relevan dengan kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia di tengah berbagai tantangan sosial yang terus berkembang.
Putri Koster mendorong WHDI Bali untuk memperluas kontribusi melalui program pendidikan, pengajaran agama, dan kegiatan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kolaborasi dengan TP Posyandu Provinsi Bali diharapkan dapat memperkuat pembinaan keluarga dan pengembangan sumber daya manusia Hindu secara berkelanjutan.
“Sinergi ini kita harapkan mampu menjadi legacy bagi organisasi dalam memajukan sumber daya manusia Hindu. Dengan ruang gerak yang berlandaskan ajaran Hindu serta tetap berpijak pada adat, dresta, dan kearifan lokal, kita ingin melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berkualitas, dan berkarakter,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua WHDI Bali, Tjokorda Istri Sri Ramaswati, menyampaikan apresiasi atas dukungan TP Posyandu Provinsi Bali dalam penyelenggaraan webinar tersebut. Ia berharap pemahaman mengenai Catur Guru dapat menjadi pedoman bagi generasi muda dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku sesuai nilai-nilai agama.
Pendidikan karakter melalui pemahaman Catur Guru juga diharapkan membantu remaja menghadapi berbagai persoalan sosial, termasuk perundungan atau bullying, yang dapat memengaruhi kehidupan di lingkungan sekolah maupun pergaulan sehari-hari.
“Dengan memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang Catur Guru, kita berharap mereka memiliki pegangan dalam berpikir dan berperilaku sehingga tidak keluar dari koridor nilai-nilai agama,” ujarnya.
Webinar Catur Guru tersebut diikuti 425 peserta secara luring yang terdiri atas siswa SMA/SMK dan guru pembimbing. Sementara itu, sekitar 1.000 siswa dan anggota WHDI dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti kegiatan secara daring.
Kegiatan ini menghadirkan dr. I Wayan Mustika, S.Ked. sebagai narasumber tunggal. Dalam pemaparannya, ia turut menyoroti pentingnya keteladanan orang tua dalam membentuk karakter anak. Ia menjelaskan bahwa secara garis besar, Catur Guru memiliki peran yang sama, yakni menuntun manusia dari kegelapan menuju terang.
Melalui webinar ini, diharapkan keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat dapat semakin memperkuat peran dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, beretika, memiliki ketahanan diri, serta mampu menerapkan nilai-nilai agama dan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari.