19 Warga Jadi Korban Gigitan, Dinas Pertanian Tekankan Pentingnya Kolaborasi dan Vaksinasi Rutin
SINGARAJA, PELANGIDEWATA – Meningkatnya kasus gigitan anjing di wilayah Kelurahan Banyuning kembali memunculkan kekhawatiran terhadap ancaman rabies di Kabupaten Buleleng.
Sebanyak 19 warga dilaporkan menjadi korban gigitan anjing, sehingga DPRD Buleleng meminta langkah penanganan dilakukan secara serius dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Sekretaris Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Dhukajaya, mengatakan kasus gigitan anjing harus mendapat perhatian khusus karena berpotensi memicu penyebaran rabies yang membahayakan keselamatan masyarakat.
“Jangan sampai persoalan ini dianggap biasa. Rabies adalah penyakit zoonosis yang sangat berbahaya, sehingga perlu penanganan bersama agar tidak meluas,” kata Dhukajaya, Selasa (19/5).
Menurutnya, pemerintah daerah perlu memperkuat strategi pengendalian rabies dengan langkah yang lebih cepat dan menyeluruh. Ia menilai vaksinasi massal anjing, sterilisasi, pendataan populasi hewan peliharaan, hingga penanganan cepat terhadap korban gigitan harus terus dimaksimalkan.
Selain itu, Dhukajaya juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga hewan peliharaan agar tidak berkeliaran bebas di lingkungan sekitar. Ia menilai rendahnya pengawasan terhadap anjing peliharaan masih menjadi salah satu faktor risiko penyebaran rabies.
“Kesadaran masyarakat sangat penting. Hewan peliharaan harus dijaga kesehatannya dan tidak dilepas begitu saja. Rabies ini bisa dicegah jika semua pihak peduli,” tegasnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, Dan Perikanan Kabupaten Buleleng, Gede Melandrat, menyampaikan bahwa upaya pengendalian rabies terus dilakukan secara berkelanjutan.
Namun ia menegaskan keberhasilan penanganan sangat bergantung pada kerja sama berbagai pihak.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Yang dibutuhkan adalah super tim, mulai dari Tisira, pemerintah desa, desa adat, kelurahan, hingga masyarakat,” ujarnya.
Melandrat menjelaskan edukasi kepada masyarakat terus digencarkan melalui kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE).
Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pentingnya vaksinasi rabies pada anjing secara rutin setiap tahun.
Terkait kasus di Banyuning, ia menyebut anjing yang menggigit warga masih dalam pencarian sehingga pihaknya belum dapat melakukan pemeriksaan sampel otak untuk memastikan status rabies pada hewan tersebut.
“Korban gigitan sudah mendapat vaksinasi. Biasanya jika anjing itu positif rabies, dalam tiga sampai empat hari akan mati,” jelasnya.
Ia juga memastikan seluruh fasilitas puskesmas di Kabupaten Buleleng telah menyediakan vaksin anti rabies (VAR) dan serum anti rabies (SAR) bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan medis setelah gigitan.
Program vaksinasi rabies, lanjut Melandrat, sudah berjalan sejak awal tahun di seluruh kecamatan di Buleleng. Setiap wilayah kecamatan bahkan telah memiliki minimal dua dokter hewan yang rutin turun ke desa-desa untuk melakukan vaksinasi.
Saat ini stok vaksin rabies di Buleleng mencapai sekitar 35 ribu dosis bantuan pemerintah pusat. Dengan jumlah populasi anjing diperkirakan sekitar 25 ribu ekor, target vaksinasi tahunan diyakini dapat tercapai apabila mendapat dukungan penuh dari masyarakat.
“Kalau masyarakat ikut mendukung, target vaksinasi sampai akhir tahun optimistis bisa terpenuhi,” tandasnya.