Ketua Dekranasda Bali menyoroti tantangan pelestarian tenun tradisional sekaligus mendorong kolaborasi antardaerah untuk memperkuat pemasaran wastra Nusantara.
DENPASAR, PELANGIDEWATA – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, menerima kunjungan Ketua Dekranasda Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sinta Agathia Iqbal, di kawasan Pameran IKM Bali Bangkit yang berlangsung di Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (29/5/2026).
Pertemuan tersebut menjadi ajang bertukar pengalaman dan gagasan mengenai upaya pengembangan sektor kerajinan daerah, khususnya dalam menghadapi tantangan pelestarian produk tradisional di tengah persaingan pasar yang semakin dinamis.
Mengawali pertemuan, Putri Koster menyampaikan bahwa kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk mempererat komunikasi sekaligus berbagi pengalaman terkait berbagai program yang telah dijalankan Dekranasda Bali dalam mendukung para perajin lokal.
“Biasanya ketemunya saat menghadiri acara di Jakarta, jadi mumpung di Bali, kita bisa bertemu di sini,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, Putri Koster menjelaskan sejumlah tantangan yang dihadapi Bali dalam menjaga keberlangsungan sektor kerajinan, terutama pada produk tenun tradisional. Ia menyoroti keberadaan produk kain bermotif serupa endek yang diproduksi di luar Bali dan dipasarkan dengan harga lebih rendah, sehingga berdampak pada minat masyarakat untuk menekuni profesi sebagai penenun.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi mengancam keberlangsungan perajin tenun lokal yang selama ini menjadi penjaga warisan budaya Bali.
“Kain produksi Troso dijual murah, jadi makin sedikit warga Bali yang tertarik untuk menenun. Jika dibiarkan, perajin tenun di sini lambat laun akan mati. Padahal pemakai kain endek banyak,” ungkap Putri Koster.
Sebagai langkah untuk mendukung keberlangsungan industri kerajinan daerah, Dekranasda Bali terus mendorong berbagai program pemberdayaan perajin, salah satunya melalui penyelenggaraan Pameran IKM Bali Bangkit. Program yang telah berjalan sejak masa pandemi Covid-19 itu bertujuan membantu pelaku UMKM memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan penjualan produk lokal.
Putri Koster menegaskan bahwa seluruh produk yang dipasarkan dalam ajang tersebut merupakan hasil karya perajin Bali yang mengedepankan kualitas serta nilai budaya.
“Motto kami adalah produk berkualitas dengan harga pantas. Jadi yang dipasarkan di sini sepenuhnya hasil penenun Bali,” imbuhnya.
Meski demikian, Putri Koster menekankan pentingnya membangun sinergi dan mencari solusi bersama terkait persoalan pemasaran produk tenun antardaerah. Ia berpandangan bahwa kolaborasi menjadi langkah terbaik untuk memperkuat posisi wastra Nusantara di pasar yang lebih luas.
“Bukan salah saudara kita di sana. Mari kita cari jalan tengah, misalnya Daerah Bali dijadikan super hub pemasaran kain tenun nusantara,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia Iqbal mengungkapkan bahwa tantangan serupa juga dihadapi oleh perajin tenun di daerahnya. Ia sepakat bahwa diperlukan komunikasi dan koordinasi bersama dengan para pemangku kebijakan guna mencari solusi yang saling menguntungkan bagi seluruh daerah penghasil kain tradisional.
Selain berdiskusi dan berbagi pengalaman, rombongan Dekranasda NTB juga diajak meninjau berbagai produk unggulan yang dipamerkan dalam ajang IKM Bali Bangkit. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan beragam karya perajin Bali sekaligus membuka peluang kerja sama dalam pengembangan industri kerajinan berbasis budaya di masa mendatang.