Tiga zona dengan karakter berbeda disiapkan untuk membawa pengunjung menyelami Buleleng tempo dulu hingga wajah budaya masa kini
SINGARAJA, PELANGIDEWATA – Nuansa Buleleng dari masa ke masa akan menjadi warna utama dalam pelaksanaan Buleleng Festival (Bulfest) 2026. Digelar selama enam hari, 18–23 Agustus 2026, festival ini dirancang untuk mengajak masyarakat tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi turut merasakan kembali cerita dan suasana yang pernah menjadi bagian dari kehidupan Buleleng.
Tema “Uriping Rasa” dipilih untuk menggambarkan semangat menghidupkan kembali rasa terhadap sejarah, budaya, dan identitas Buleleng. Warisan tersebut tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang hanya dikenang, tetapi dikemas agar dapat dinikmati dan dipahami dalam konteks kehidupan masyarakat saat ini.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan, penyelenggaraan Bulfest yang telah memasuki perjalanan panjang sejak 2013 harus terus berkembang dengan tetap menjadikan budaya lokal sebagai pijakan.
“Modernisasi tidak berarti kita meninggalkan identitas. Justru melalui Bulfest, kita ingin menunjukkan bahwa cerita dan warisan Buleleng bisa dikemas secara menarik tanpa kehilangan nilai aslinya,” ujar Sutjidra dalam dialog interaktif di salah satu radio swasta, Kamis (13/8).
Kawasan Praja Mandala akan menjadi salah satu titik utama untuk merasakan atmosfer Buleleng tempo dulu. Pengunjung akan menemukan sejumlah makanan tradisional seperti laklak kelor, jukut buangit, undis, dan kuliner khas lainnya. Siobak juga menjadi bagian dari sajian yang merepresentasikan kekayaan kuliner daerah.
Sutjidra menjelaskan, kuliner sengaja mendapat perhatian karena makanan tradisional memiliki hubungan erat dengan sejarah dan kehidupan masyarakat. Melalui sajian tersebut, pengunjung diharapkan dapat memahami kembali karakter Buleleng yang dahulu dikenal sebagai daerah perdagangan, pendidikan, sekaligus pusat kebudayaan.
“Kita ingin setiap zona memiliki identitas. Jangan sampai festival hanya menghadirkan hiburan, tetapi tidak menunjukkan kekayaan yang kita miliki sendiri,” ujarnya.
Untuk menjaga kualitas sajian, Pemkab Buleleng melakukan kurasi terhadap UMKM yang berpartisipasi. Produk kuliner menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian khusus, terutama terkait bahan dan proses pengolahannya. Penggunaan bahan alami dan segar menjadi salah satu pertimbangan agar cita rasa tradisional tetap terjaga.
Sementara itu, Ketua Panitia Bulfest 2026 Putu Ariadi Pribadi menyampaikan, konsep festival tahun ini diwujudkan melalui tiga zona yang memiliki karakter masing-masing.
Zona A di kawasan Praja Mandala bagian utara menjadi ruang nostalgia. Di kawasan ini, pengunjung dapat menikmati kuliner dan kesenian tradisional sekaligus menyaksikan layar tancap dan mengunjungi rumah cerita yang menghadirkan kembali kisah Buleleng pada masa lampau.
Zona B yang berlokasi di sekitar Kantor DPRD dan Rumah Jabatan Bupati mengambil pendekatan berbeda. Konsep modern dan kreatif akan mendominasi kawasan ini sebagai gambaran perkembangan kehidupan masyarakat Buleleng masa kini.
Sedangkan Zona C yang berada di Catus Pata membawa gagasan mengenai budaya yang berkelanjutan. Kesenian rakyat, seperti joged dan bondres, akan menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan di kawasan tersebut.
“Ketiga zona ini kami buat dengan karakter berbeda agar masyarakat dapat menikmati pengalaman yang beragam. Ada ruang untuk bernostalgia, ada ruang untuk kreativitas masa kini, dan ada pula ruang untuk melihat bagaimana budaya terus hidup,” jelas Ariadi.
Panggung utama Bulfest tetap berada di Praja Mandala. Sejumlah agenda hiburan dan seni telah disiapkan, termasuk tari massal, fragmen, serta penampilan grup musik Kla Project asal Yogyakarta.
Dukungan dari pelaku UMKM juga terlihat dari tingginya jumlah pendaftar. Sebanyak 309 UMKM mengajukan diri untuk mengikuti Bulfest 2026. Setelah melalui tahapan kurasi dengan mempertimbangkan kualitas produk, menu, serta kesesuaian dengan konsep zona, sebanyak 87 UMKM ditetapkan sebagai peserta.
Menurut Sutjidra, keterlibatan UMKM menjadi bagian penting karena festival diharapkan memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat.
“Bulfest harus memberikan manfaat yang lebih luas. Selain menjadi ruang kebudayaan, kita ingin pelaku UMKM mendapatkan kesempatan memperkenalkan produk dan meningkatkan aktivitas ekonominya,” katanya.
Ia pun mengajak masyarakat Buleleng dan pengunjung dari luar daerah untuk datang langsung menikmati Bulfest 2026.
“Mari bersama-sama hadir dan merasakan Bulfest. Kita hidupkan kembali rasa terhadap Buleleng, terhadap cerita, budaya, dan warisan yang kita punya. Mudah-mudahan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar,” ajak Sutjidra.
Untuk pembiayaan, mayoritas rangkaian kegiatan Bulfest 2026 ditopang melalui dukungan CSR. Sementara penggunaan APBD difokuskan pada program yang berkaitan dengan bidang kesenian dan kebudayaan.
Dengan menggabungkan nostalgia dan kreativitas, Bulfest 2026 diharapkan mampu menjadi jembatan antargenerasi. Cerita masa lalu tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi dapat dihidupkan kembali melalui festival dan menjadi bagian dari identitas Buleleng yang terus berkembang.