Tradisi Nyakan Diwang dalam rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun baru Caka 1947
SINGARAJA, PELANGIDEWATA, – Pemerintah Kecamatan Banjar menegaskan komitmennya dalam menjaga kelestarian tradisi lokal yang menjadi identitas masyarakat, salah satunya melalui pelaksanaan Nyakan Diwang dalam rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1947. Tradisi ini kembali dilaksanakan masyarakat sehari setelah Nyepi, bertepatan dengan Hari Ngembak Geni, sebagai wujud kebersamaan dan pemulihan aktivitas sosial pasca Catur Brata Penyepian.
Camat Banjar, Putu Widiawan, S.Sos, menyampaikan bahwa Nyakan Diwang merupakan kearifan lokal yang memiliki nilai sosial dan spiritual yang kuat. Tradisi ini diwujudkan dengan kegiatan memasak bersama di ruang terbuka, baik di halaman rumah maupun lingkungan sekitar, yang kemudian dilanjutkan dengan makan bersama serta saling berinteraksi antarwarga.
“Nyakan Diwang bukan sekadar aktivitas memasak di luar rumah, namun menjadi simbol kebangkitan kembali kehidupan sosial setelah sehari penuh umat Hindu menjalani tapa brata Nyepi. Ini mencerminkan nilai kebersamaan, persaudaraan, dan keharmonisan,” ungkapnya.
Lebih lanjut disampaikan, pelaksanaan tradisi ini memiliki keterkaitan erat dengan rangkaian Hari Raya Nyepi, mulai dari Melasti, Tawur Kesanga, Catur Brata Penyepian, hingga Ngembak Geni. Setelah menjalani empat pantangan utama Nyepi, yakni Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan, masyarakat kembali beraktivitas dengan semangat baru yang lebih bersih secara lahir dan batin.
Selain mempererat hubungan sosial, Nyakan Diwang juga dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, khususnya unsur api sebagai sumber kehidupan. Penggunaan api kembali pada Hari Ngembak Geni menjadi simbol dimulainya aktivitas baru yang dilandasi kesadaran dan keseimbangan.
Pemerintah Kecamatan Banjar juga menilai tradisi ini selaras dengan konsep keseimbangan hidup masyarakat Bali, yakni Tri Hita Karana, yang menekankan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.
Di tengah perkembangan zaman, Pemerintah Kecamatan Banjar mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga dan melestarikan tradisi Nyakan Diwang sebagai warisan budaya leluhur. Upaya ini dinilai penting tidak hanya untuk mempertahankan adat istiadat, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi generasi muda agar tetap memahami nilai-nilai luhur budaya Bali.
“Melalui pelestarian tradisi ini, kami berharap masyarakat semakin memperkuat rasa kebersamaan serta menjaga harmoni dalam kehidupan sehari-hari,” tambah Putu Widiawan.
Dengan semangat kebersamaan yang terus dijaga, tradisi Nyakan Diwang diharapkan tetap menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan Nyepi di Kecamatan Banjar, sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat di Kabupaten Buleleng.