Aksi rehabilitasi mangrove di kawasan pesisir Denpasar menjadi wujud sinergi pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi hijau Bali.
DENPASAR, PELANGIDEWATA– Komitmen menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim kembali ditunjukkan melalui aksi penanaman mangrove yang dipimpin Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Mohammad Jumhur Hidayat, bersama Gubernur Bali Wayan Koster di Mangrove Arboretum Park, Pedungan, Denpasar Selatan, Rabu (10/6).
Kegiatan yang melibatkan unsur pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, pelajar, mahasiswa, serta berbagai komunitas lingkungan tersebut menjadi simbol kolaborasi lintas sektor dalam upaya melindungi kawasan pesisir dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Program penanaman mangrove ini merupakan tindak lanjut dukungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia terhadap upaya rehabilitasi wilayah pesisir sekaligus mendorong meningkatnya kesadaran publik mengenai pentingnya keberadaan hutan mangrove.
Sejumlah pejabat turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Wali Kota Denpasar, perwakilan Pangdam IX/Udayana, Kapolda Bali, Bupati Badung, Kepala Kejaksaan Tinggi Bali, Ketua Pengadilan Tinggi Denpasar, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Bali, Danrem 163/Wira Satya, Kepala BIN Daerah Bali, Kepala BNN Provinsi Bali, serta jajaran TNI, Polri, kalangan pelajar, mahasiswa, dan pegiat lingkungan.
Dalam sambutannya, Menteri Lingkungan Hidup menegaskan bahwa penanaman mangrove harus dimaknai sebagai langkah nyata menjaga bumi, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Menurutnya, berbagai bencana yang terjadi saat ini tidak terlepas dari menurunnya kualitas hubungan manusia dengan lingkungan.
“Kita mulai merasakan gangguan akibat ketidaksopanan kita kepada lingkungan. Banyak bencana hidrometeorologi yang terjadi karena cara kita memperlakukan alam. Karena ulah manusia, maka alam memberikan responsnya,” ujar Menteri LH.
Ia menilai meningkatnya frekuensi banjir dan berbagai bencana alam di sejumlah wilayah Indonesia menjadi peringatan penting agar upaya pelestarian lingkungan dilakukan secara lebih serius dan berkesinambungan.
Karena itu, pemerintah pusat berkomitmen memperluas gerakan penanaman mangrove di berbagai daerah, termasuk Bali yang memiliki peran strategis sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Bali Dinilai Berhasil Membangun Kolaborasi Lingkungan
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Jumhur memberikan apresiasi terhadap komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga lingkungan hidup melalui keterlibatan berbagai unsur masyarakat.
Menurutnya, Bali menunjukkan contoh positif mengenai bagaimana pemerintah, masyarakat, dan berbagai lembaga dapat bergerak bersama dalam upaya pelestarian alam.
“Di Bali saya melihat semua kalangan bisa bersatu. Ini contoh yang sangat baik dan saya yakin akan semakin banyak pihak yang terlibat dalam menjaga lingkungan hidup,” katanya.
Ia juga mengungkapkan rencana pemerintah pusat untuk kembali menggelar kegiatan penanaman mangrove dalam skala yang lebih besar pada peringatan Hari Mangrove Sedunia, 28 Juli mendatang.
Agenda tersebut dirancang melibatkan berbagai kementerian, organisasi masyarakat, serikat pekerja, serta komunitas lingkungan guna memperkuat gerakan konservasi kawasan pesisir.
Selain itu, Menteri LH turut mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Bali dalam menangani persoalan sampah yang sebelumnya sempat menjadi sorotan publik.
Berdasarkan laporan yang diterima kementerian, sejumlah daerah di Bali menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengendalian timbunan sampah sehingga kondisi kebersihan lingkungan menjadi lebih terjaga.
Menurutnya, keberhasilan tersebut akan memberikan dampak positif terhadap citra Bali di mata dunia.
“Ketika suatu daerah serius menjaga lingkungan, masyarakat internasional akan memberikan penghormatan dan simpati. Hal itu justru akan memperkuat sektor pariwisata,” ujarnya.
Lebih lanjut, Menteri Jumhur menyoroti besarnya potensi ekonomi hijau yang dapat dikembangkan melalui pelestarian hutan dan mangrove.
Ia menjelaskan bahwa ekosistem mangrove memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap karbon sehingga berpeluang menjadi bagian penting dalam skema perdagangan karbon internasional.
Apabila dikelola secara berkelanjutan dan mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar, maka nilai ekonomi dari jasa lingkungan tersebut dapat berkembang secara signifikan.
Karena itu, menjaga mangrove tidak hanya penting bagi konservasi alam, tetapi juga dapat membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai skema ekonomi berkelanjutan.
Gubernur Koster: Rehabilitasi Mangrove Terus Menjadi Prioritas
Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan apresiasi atas kehadiran Menteri Lingkungan Hidup yang dinilainya sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah pusat terhadap berbagai program pelestarian lingkungan di Bali.
Menurut Koster, kegiatan penanaman mangrove selaras dengan agenda pembangunan Bali yang menempatkan perlindungan lingkungan sebagai salah satu prioritas utama dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
“Terima kasih kepada Bapak Menteri yang berkenan hadir di Bali sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan hidup di Provinsi Bali,” ujar Koster.
Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali secara konsisten melaksanakan gerakan penanaman pohon dan rehabilitasi mangrove di berbagai wilayah setiap bulan sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem.
Program tersebut juga diarahkan untuk mempertahankan luasan kawasan hijau dan kawasan hutan yang menjadi penyangga lingkungan Pulau Bali.
Koster mengungkapkan bahwa kawasan mangrove di wilayah Denpasar dan Badung sebelumnya mengalami kerusakan yang cukup serius. Sekitar 18 hektare kawasan tercatat mengalami kematian vegetasi dan kerusakan yang kini terus direhabilitasi sejak tahun 2019.
Melalui upaya pemulihan yang dilakukan secara berkelanjutan, pemerintah berharap kawasan tersebut dapat kembali berfungsi optimal sebagai pelindung wilayah pesisir, penyerap karbon alami, sekaligus habitat bagi berbagai jenis biota.
“Semoga mangrove yang ditanam hari ini dapat tumbuh dengan baik sehingga kawasan ini kembali pulih seperti sedia kala dan memberikan manfaat bagi lingkungan serta masyarakat,” kata Koster.
Melalui rehabilitasi mangrove yang berkelanjutan, penguatan pengelolaan sampah, serta pengembangan ekonomi hijau, Bali diharapkan mampu mempertahankan reputasinya sebagai destinasi wisata dunia yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menunjukkan komitmen kuat terhadap keberlanjutan lingkungan.